jangan berhenti

Ditulis Juni 6, 2011 oleh savana
Kategori: Tak Berkategori

Orang yang berhenti belajar, akan menjadi pemilik masa lalu. Orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan. …Perhatikanlah betapa dekatnya hubungan antara keengganan untuk belajar dan kelemahan hidup. Dan mereka yang mendisiplinkan diri untuk belajar, dalam pendidikan resmi dan dari kehidupan, akan memimpin kehidupan yang baik. Belajar adalah proses meninggikan derajat.

SKG

Ditulis Mei 21, 2011 oleh savana
Kategori: Tak Berkategori

alhamdulillah
setelah menempuh waktu sekian lama,,akirnya diwisuda juga jadi SKG(Sarjana Kedokteran Gigi).
dengan penuh perjuangan tetes keringat air mata (lebay tapi emank iya koq).
Melewati begitu banyak kendala, rintangan dan halangan yang menerpa,
Semangat ini kadang pupus berkurang tapi berkobar bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya.
Akhirnya kemaren diwisuda juga horeeee…
Segala puji bagi ALLAH yg gk habis2nya dengar doa ana, Nabi Muhammad yg udah angkat derajat kaum perempuan, Papa mama yg selaluuuu ingat sama anaknya, buat teman-teman semua yg udah banyak bantu dalam banyak hal dari awal sampai akhir.Makasih yaaaa

pergi

Ditulis Mei 30, 2010 oleh savana
Kategori: wara-wiri

saat sudah hampir memutuskan.saat hati ini sudah hampir yakin.

saatnya juga … pergi.

ridiculous people

Ditulis Mei 11, 2010 oleh savana
Kategori: wara-wiri

Manusia diciptakan berbeda-beda,baik dari segi fisik,bentuk,rupa,tingkah laku.dari perbedaan itu lah kita jadi harus bisa lebih menghormati dan menghargai orang lain.

Kadangkala malah banyak terdapat orang berperilaku “”.Saran saya:Jangan jengkel dulu teman,,,tapi renungkanlah manfaat orang-orang seperti mereka di sekeliling kita.

Walaupun orang tersebut berperilaku tidak pantas, orang tersebut dianugerahkan Oleh YANG MAHA KUASA untuk mengingatkan kita agar  tidak berperilaku seperti itu.Bersyukurlah dan berterimakasihlah kepada ALLAH karena telah menciptakan kita dengan variasi yang luar biasa dengan salah satunya orang yang berepeilaku “”.Karena ……………dari merekalah kita diajarkan,direnungkan dan disadarkan untuk tidak mencontohnya dan tidak berperilaku seperti itu.

.

Prosedur diagnosis Temporomandibularjoint

Ditulis Mei 6, 2010 oleh savana
Kategori: Tak Berkategori


Diagnosis dapat ditegakkan secara berurutan berdasarkan:

a) Anamnesis

Meliputi personal data, keluhan utama, riwayat penyakit, riwayat kesehatan dan riwayat kesehatan gigi dan mulutnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa gejala dari kelainan temporomandibular dapat berasal dari gigi dan jaringan periodontal, maka harus dilakukan pemeriksaan secara seksama pada gigi dan jaringan periodontal. Selain itu, perlu ditanyakan

tentang perawatan gigi yang pernah didapatkan, riwayat penggunaan gigi palsu dan gigi kawat. Keluhan utama pada pasien dengan, diantaranya :

  • Pasien akan merasakan nyeri pada darah TMJ, rahang atau wajah
  • Nyeri dirasakan pada saat membuka mulut
  • Keluhan adanya “clicking sounds” pada saat menggerakan rahang
  • Kesulitan untuk membuka mulut secara sempurna
  • Sakit kepala
  • Nyeri pada daerah leher dan pungggung

b) Pemeriksaan klinis

Inspeksi

Untuk melihat adanya kelainan sendi temporomandibular perlu diperhatikan gigi, sendi rahang dan otot pada wajah serta kepala dan wajah. Apakah pasien menggerakan mulutnya dengan nyaman selama berbicara atau pasien seperti menjaga gerakan dari rahang bawahnya. Terkadang pasien memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik selama interview seperti bruxism.

Palpasi

Masticatory muscle examination: Pemeriksaan dengan cara palpasi sisi kanan dan kiri pada  dilakukan pada sendi dan otot pada wajah dan daerah kepala.

  • Temporalis muscle, yang terbagi atas 3 segmen yaitu anterior, media, dan posterior
  • Zygomatic arch (arkus zigomatikus).
  • Masseter muscle
  • Digastric muscle
  • Sternocleidomastoid muscle
  • Cervical spine
  • Trapezeus muscle, merupakan muscular trigger point serta menjalarkan nyeri ke dasar tengkorang dan bagian temporal
  • Lateral pterygoid muscle
  • Medial pterygoid muscle
  • Coronoid process

Muscular Resistance Testing: Tes ini penting dalam membantu mencari lokasi nyeri dan tes terbagi atas 5, yaitu :

  • Resistive opening (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada ruang inferior m. pterigoideus lateral)
  • Resistive closing (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. temporalis, m. masseter, dan m. pterigoideus medial)
  • Resistive lateral movement (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. pterigoideus lateral dan medial yang kontralateral)
  • Resistive protrusion (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. Pterigoideus lateral)
  • Resistive retrusion (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada bagian posterior m. temporalis)

Pemeriksaan tulang belakang dan cervikal: Dornan dkk memperkirakan bahwa pasien dengan masalah TMJ juga memperlihatkan gejala pada cervikal. Pada kecelakaan kendaraan bermotor kenyataannya menunjukkan kelainan pada cervikal maupun TMJ. Evaluasi pada cervical dilakukan dengan cara :

  • menyuruh pasien berdiri pada posisi yang relaks, kemudian dokter menilai apakah terdapat asimetris kedua bahu atau deviasi leher
  • menyuruh pasien untuk menghadap kesamping untuk melihat postur leher yang terlalu ke depan
  • menyuruh pasien untuk memutar (rotasi) kepalanya ke setiap sisi, dimana pasien seharusnya mampu untuk memutar kepala sekitar 80 derajat ke setiap sisi.
  • menyuruh pasien mengangkat kepala ke atas (ekstensi) dan ke bawah (fleksi), normalnya pergerakan ini sekitar 60 derajat
  • menyuruh pasien menekuk kepala kesamping kiri dan kanan, normalnya pergerakan ini 45 derajat

Auskultasi : Joint sounds

Bunyi sendi TMJ terdiri dari ‘kliking’ dan ‘krepitus’. ‘Kliking’ adalah bunyi singkat yang terjadi pada saat membuka atau menutup mulut, bahkan keduanya. ‘Krepitus’ adalah bersifat difus, yang biasanya berupa suara yang dirasakan menyeluruh pada saat membuka atau menutup mulut bahkan keduanya. ’Krepitus’ menandakan perubahan dari kontur tulang seperti pada osteoartrosis. ’Kliking’ dapat terjadi pada awal, pertengahan, dan akhir membuka dan menutup mulut. Bunyi ‘klik’ yang terjadi pada akhir membuka mulut menandakan adanya suatu pergeseran yang berat. TMJ ‘kliking’ sulit didengar karena bunyinya halus, maka dapat didengar dengan menggunakan stetoskop.

Range of motion

Pemeriksaan pergerakan ”Range of Motion” dilakukan dengan pembukaan mulut secara maksimal, pergerakan dari TMJ normalnya lembut tanpa bunyi atau nyeri. Mandibular range of motion diukur dengan :

  • Maximal interticisal opening (active and passive range of motion)
  • Lateral movement
  • Protrusio movement

Pemeriksaan Penunjang untuk TMD

Ditulis Mei 6, 2010 oleh savana
Kategori: Tak Berkategori

Transcranial radiografi

Menggunakan sinar X, untuk dapat menilai kelainan, yang harus diperhatikan antara lain :

  • Condyle pada TMJ dan bagian pinggir kortex harus diperhatikan
  • Garis kortex dari fossa glenoid dan sendi harus dilihat.
  • Struktur condyle mulus, rata, dan bulat, pinggiran kortex rata.
  • Persendian tidak terlihat karena bersifat radiolusen.
  • Perubahan patologis yang dapat terlihat pada condyle diantaranya flattening, lipping.

Tomography
Tomography sendi temporomandibular dihasilkan melalui pergerakan yang sinkron antara tabung X-ray dengan kaset film melalui titik fulkrum imaginer pada pertengahan gambaran yang diinginkan termasuk juga Linear tomography dan complex tomography. Beberapa penelitian menyatakan bahwa tomografi merupakan metode yang baik untuk menggambarkan perubahan tulang dengan arthrosis pada sendi temporomandibular. Untuk mengevaluasi posisi kondil pada fossa glenoid, tomografi lebih terpercaya daripada proyeksi biasa dan panoramik. Secara klinis, posisi kondil tetap merupakan aspek yang penting dalam melakukan bedah orthognati and orthodontic studies. Kerugian yang paling besar dalam tomografi adalah kurangnya visualisasi jaringan lunak sendi temporomandibular, juga pada radiography biasa.

Arthrography
Terdapat dua tehnik arthgraphy pada sendi temporomandibular. Pada single-contrast arthography, media radioopak diinjeksikan ke rongga sendi atas atau bawah atau keduanya. Pada double-contrast arthography, sedikit udara diinjeksikan ke dalam rongga sendi setelah injeksi materi kontras.Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara kedua tehnik. Jika sejumlah kecil bahan kontras medium air disuntikkan pada ruang superior dan inferior sendi, diskus artikularis dan perlekatannya akan terlihatbatasnya dan posisinya bisa dilacak sepanjang pergerakan mendibula.

Bagaimanapun, hanya ruang interior yang dibutuhkan untuk menetapkan posisi normal dan abnormal dari diskus tehadap hubungannya dengan kondil selama translasi. Bentuk ruang sendi (synovial cavities) akan bervariasi tergantung perubahan mulut apakah membuka atau menutup dan kondil akan bertranslasi kedepan pada eminensia. Arthrogram ini merupakan satu-satunya metode yang tersedia untuk melihat hubungan yang sebenarnya antara diskus dan kondil yang dapat divisualisasikan, dan ia sangat penting untuk pnegakkan diagnosis pada kelainan internal yang terjadi.

Keakuratan diagnosa posisi diskus 84% sampai 100% dibandingkan dengan the corresponding cryosectional morphology dan dari penemuan bedah. Performasi dan adhesi juga dapat ditunjukkan dengan teknik ini. Penelitian-penelitian telah menunjukkan pentingnya diagnosis dan identifikasi kerusakan sendi temporomandibular internal. Penelitian yang baru-baru ini dilakukan dengan menggunakan tehnik arthography, menunjukkan bahwa arthography dapat meningkatkan keakuratan diagnosa perforasi dan adhesi diskusi Sendi Temporomandibular dengan MRI.

Computed tomography

Pada tahun 1980, computed tomography (CT) mulai diaplikasikan ankilosis sendi temporomandibular, fraktur kondil, dislokasi dan perubahan osseous. Pada laporan terdahulu, keakuratan dalam penentuan lokasi diskus tinggi (81%) jika dibandingkan dengan CT dan penemuan bedah. Beberapa laporan mempertimbangkan bahwa CT dapat menggantikan proyeksi arthrograpy dalam diagnosis dislokasi diskus pada kelainan sendi temporomandibular. Bagaimanapun, keakuratan dari penentuan dislokasi diskus hanya sekitar 40%-67% pada CT dalam studi material spesimen autopsi. Keakuratan dalam perubahan osseus dari sendi temporomandibular dalam CT dibandingkan dengan material cadaver sekitar 66%-87%. Beberapa laporan menunjukkan bahwa bukti arthrosis dalam radiograf dapat atau tidak dapat dihubungkan dengan gejala klinis nyeri disfungsi. Jadi pasien tanpa perubahan osseus changes di sendi temporomandibular, bisa saja merasa nyeri, dan asien tanpa gejala abnormalitas tulang bisa bebas nyeri. CT bukanlah metode yang baik untuk mendiagnosa kelainan sendi temporomandibular.

Magnetic Resonance Imaging

Beberapa penelitian telah membandingkan MRi sendi temporomandibular dengan arthography dan CT. Hasil MRI juga dibandingkan dengan observasi anatomi dan histologi. Pada penelitian terhadap spesimen autopsi, keakuratan MRI mengevaluasi perubahan osseus adalah 60% sampai 100% dan keakuratan mengevaluasi dislokasi diskus adalah 73% sampai 95. Semua penelitian diatas menunjukkan bahwa MRI adalah metode terbaik untuk pencitraan jaringan keras dan jaringan lunak sendi temporomandibular. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dislokasi diskus yang ditunjukkan MRI ternyata memeliki hubungan dengan cliking, nyeri, dan gejala disfungsi Sendi Temporomandibular lain. Setiap kali nyeri kliis dan gejala disfungsi sendi temporomandibular ditemukan tanpa adanya dislokasi diskus pada MRI maja diduga diagnosis pencintraan tersebut false positive atau false negative. Walaupun beberapa penelitian menyetujui bahwa nyeri otot adalah salah satu aspek utama kelainan TMJ, bukti perubahan patologis otot pengunyahan tidak diperhitungkan dalam diagnosis pencitraan. Beberapa laporan menunjukkan MRI tidak hanya merupakan metode yang akurat untuk mendeteksi posisi diskus tetapi juga merupakan teknik potensial untuk mengevaluasi perubahan patologis pengunyahan pada kelainan Sendi Temporomandibular. Akan tetapi, tidak ada laporan yang menghubungkan abnormalitas otot penguyahan pada MRI dengan gejala klinis.

Klasifikasi Temporo mandibular joint Disorder (TMD) oleh America Academy of Orofacial Pain:

Ditulis Mei 6, 2010 oleh savana
Kategori: Tak Berkategori

  1. Bentuk yang mengalami deviasi
    1. Kerusakan pada permukaan artikular
    2. Disk yang tipis dan perforasi
    3. Displacement disk
      1. Displacement disk dengan reduksi
      2. Displacement disk tanpa reduksi
      3. Displacement of disc-condyle complex
        1. Hypermobility
        2. Dislokasi
        3. Kondisi inflamasi
          1. Capsulitis and synovitis
          2. Retrodiscitis
          3. Penyakit degeneratif
            1. Osteoarthrosis
            2. Osteoarthritis
            3. Polyarthritides
            4. Ankylosis
              1. Fibrous
              2. Bony

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.